Jumat, 06 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Global
Global

Pete Hegseth Terancam Usai Republik Kalah Pemilu Sela AS, Demokrat Siapkan Penyelidikan

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 06 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth saat menghadiri konferensi pers di Pentagon. Washington DC, 16 April 2026.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth saat menghadiri konferensi pers di Pentagon. Washington DC, 16 April 2026. Foto: AFP/SAUL LOEB

PahamEkonomi.com - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menghadapi tekanan politik yang semakin besar setelah Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilu sela. Partai Demokrat yang kini menguasai Kongres berencana memperketat pengawasan terhadap Hegseth dan Departemen Pertahanan AS, termasuk terkait perang melawan Iran.

Tekanan tersebut juga datang dari internal Partai Republik. Sejumlah tokoh partai mulai mengaitkan kekalahan dalam pemilu dengan perang Iran yang selama ini didukung Hegseth. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan secara terbuka menyebut konflik tersebut sebagai salah satu faktor utama yang merugikan partainya.

"Penyebab kekalahan kita adalah perang itu," ujar Vance menanggapi kemenangan Partai Demokrat, dikutip dari AFP, Jumat (6/11/2026).

Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bahwa penilaian Vance tersebut sebagian besar benar. Perang melawan Iran diketahui berdampak pada perekonomian global setelah Iran sempat memblokir sebagian jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga, terutama energi, yang menjadi salah satu sumber ketidakpuasan pemilih di AS.

Meski demikian, Trump masih memberikan dukungan kepada Hegseth. Saat ditanya mengenai kemungkinan mengganti kepala Pentagon tersebut, Trump mengatakan Hegseth telah menjalankan pekerjaannya dengan sangat baik.

Namun, kemenangan Demokrat dalam pemilu sela memberi partai tersebut kekuatan politik lebih besar untuk mengawasi pemerintahan Trump. Dengan menguasai mayoritas kursi di kedua majelis Kongres, Demokrat memiliki ruang untuk melakukan penyelidikan serta membatasi pendanaan Departemen Pertahanan dan perang melawan Iran.

Demokrat Jadikan Hegseth Sasaran Pengawasan Kongres

Sejumlah anggota parlemen Demokrat telah menyatakan bahwa Hegseth akan menjadi salah satu fokus pengawasan Kongres. Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Jason Crow, secara terbuka menyampaikan rencana untuk menyoroti kepemimpinan Hegseth di Pentagon.

"Saya akan mengejar Pete Hegseth. Dia tidak hanya tidak kompeten dan korup, tetapi juga merusak keamanan nasional kita serta keselamatan pasukan kita," ujar Crow.

Sementara itu, Adam Smith, tokoh senior Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, menyebut pengawasan terhadap Departemen Pertahanan dan pemerintahan Trump sebagai salah satu prioritas utama partainya.

Smith mengatakan pemeriksaan tersebut juga akan mencakup perang melawan Iran yang dinilainya ilegal. Selain itu, Demokrat berencana menyoroti pengerahan pasukan oleh Trump ke berbagai kota di AS serta dugaan politisasi angkatan bersenjata.

Menurut Smith, sejumlah kebijakan tersebut akan menjadi bagian dari agenda pengawasan Kongres setelah Demokrat memperoleh kendali mayoritas.

Anggota Republik Kembali Ancam Ajukan Pemakzulan

Selain menghadapi tekanan dari Demokrat, Hegseth juga mendapat ancaman pemakzulan dari anggota Partai Republik, Thomas Massie. Anggota DPR yang akan segera mengakhiri masa jabatannya itu berencana kembali mengajukan pasal-pasal pemakzulan terhadap Hegseth ketika DPR bersidang pekan depan.

"Ada satu kondisi di mana saya tidak akan mengajukan kembali pasal-pasal pemakzulan tersebut, jika Hegseth mengundurkan diri," ujar Massie.

Massie sebelumnya telah berupaya mengajukan pemakzulan terhadap Hegseth pada awal 2026. Namun, proses tersebut tidak berlanjut hingga pemungutan suara karena sidang DPR dihentikan sementara saat memasuki masa reses.

Menanggapi berbagai tekanan tersebut, Hegseth membela kinerjanya melalui pesan video pada Kamis. Ia menyebut perang melawan Iran sebagai operasi yang berani dan bersejarah.

"Mereka menyerang saya, mereka menyerang kita, karena kita efektif. Itu tidak akan berhasil. Kita tidak akan mundur," tegas dia.

Hegseth juga menepis upaya pemakzulan yang kembali diwacanakan Massie. Ia menilai langkah tersebut sebagai upaya politik untuk merusak reputasinya.

"Ini semua hanyalah politik untuk menghancurkan reputasi seseorang. Cara ini tidak berhasil terhadap Presiden Trump, dan tidak akan berhasil terhadap saya," tegasnya.

Deretan Kontroversi Pete Hegseth di Pentagon

Tekanan politik terhadap Hegseth muncul di tengah sejumlah kontroversi yang telah membayangi kepemimpinannya sejak mulai menjabat pada awal 2025.

Salah satu kontroversi yang mencuat adalah rencana menyiarkan secara langsung eksekusi mati oleh regu tembak militer. Rencana tersebut pada akhirnya dibatalkan oleh Trump.

Hegseth juga pernah menjadi sorotan setelah majalah The Atlantic mengungkap bahwa pemimpin redaksinya secara tidak sengaja dimasukkan ke dalam grup percakapan Signal. Dalam grup tersebut, Hegseth dan sejumlah pejabat membahas rencana serangan AS ke Yaman.

Kontroversi lainnya berkaitan dengan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba di kawasan Karibia dan Pasifik timur. Salah satu serangan susulan dilaporkan menewaskan korban yang selamat dari serangan sebelumnya.

Di bawah kepemimpinannya, sejumlah perwira senior militer AS juga diberhentikan. Salah satunya adalah Charles "CQ" Brown, tanpa penjelasan yang memadai kepada publik.

Rangkaian persoalan tersebut berpotensi kembali menjadi perhatian Kongres setelah Demokrat memperoleh mayoritas. Dengan meningkatnya pengawasan legislatif, kepemimpinan Hegseth di Pentagon diperkirakan menghadapi pemeriksaan politik yang lebih ketat.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update