Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Bisnis
Bisnis

Pendapatan ADMR 2026 Diproyeksi Melonjak 110,5 Persen, Aluminium Jadi Pendorong

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 21 Oct 2026 👁️ 8x dibaca
Garibaldi 'Boy' Thohir memberikan sambutan dalam pengenalan Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN) atau yang sebelumnya bernama Yayasan Adaro Bangun Negeri pada Kamis (12/6/2025).
Garibaldi 'Boy' Thohir memberikan sambutan dalam pengenalan Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN) atau yang sebelumnya bernama Yayasan Adaro Bangun Negeri pada Kamis (12/6/2025). Foto: Istimewa

PahamEkonomi.com - Analis KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli (Buy) untuk saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) dengan target harga Rp2.100 per saham. Kinerja emiten diperkirakan tumbuh signifikan hingga akhir 2026, didukung harga batu bara kokas yang masih tinggi dan tambahan pendapatan dari bisnis pengolahan aluminium.

Analis KB Valbury Sekuritas Atikah Tri Adriyanti menyampaikan pandangan tersebut kepada Bisnis.com, dikutip Rabu (21/10/2026).

“Dengan mempertimbangkan prospek bisnis batu bara serta kontribusi bisnis pengolahan aluminium, kami mempertahankan rekomendasi Buy untuk ADMR dengan target harga Rp2.100 per saham,” tutur Atikah.

Proyeksi Pendapatan dan Laba 2026

Pendapatan ADMR pada 2026 diproyeksikan mencapai US$2,048 miliar, melonjak 110,5 persen secara tahunan. Bisnis batu bara diperkirakan menyumbang US$1,144 miliar, tumbuh 18,1 persen, sementara pengolahan logam menambah sekitar US$900 juta.

Dari sisi laba, ADMR diprediksi mencetak laba bersih US$450,5 juta, naik 66,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Margin kotor diperkirakan 41,9 persen dan margin bersih 22 persen.

Harga Kokas Tinggi, Kendala Logistik Kuartal III

Harga jual rata-rata (ASP) batu bara kokas yang masih relatif tinggi menjadi penopang utama prospek perseroan.

“Dalam proyeksi kami, ASP FY26F berada di USD183/ton,” ujarnya kepada Bisnis.com, dikutip Rabu (21/10/2026).

Meski begitu, penjualan batu bara berpotensi tertekan pada kuartal III/2026 akibat kendala logistik yang menghambat pengangkutan. KB Valbury menilai gangguan ini bisa mereda pada kuartal IV sehingga target tahunan masih terjangkau.

“Sehingga volume penjualan batu bara FY26F tetap dapat mencapai sekitar 6,2 juta ton,” sebut Atikah.

Di luar batu bara, segmen pengolahan aluminium menjadi pendorong pertumbuhan pada paruh kedua 2026 dan berpotensi menyumbang pendapatan sekitar US$900 juta.

Imbas ke ADRO dan Aksi Beli Boy Thohir

Pertumbuhan ADMR juga bisa menjadi katalis bagi induk usahanya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO). Kontribusi PT Saptaindra Sejati (SIS) turut berpotensi memengaruhi prospek ADRO, sehingga investor perlu memantau realisasi kinerja operasional dan sumbangan pendapatan tiap entitas.

Sentimen terhadap saham grup Adaro juga dipengaruhi aksi pengusaha Garibaldi Thohir atau Boy Thohir yang membeli 470.000 saham ADRO. Menurut Atikah, langkah itu bisa menjadi sentimen positif jangka pendek bagi ADRO dan ADMR karena berpotensi dibaca pasar sebagai tanda kepercayaan pemegang saham utama.

“Aksi tersebut lebih tepat dipandang sebagai katalis sentimen daripada konfirmasi perbaikan fundamental,” tamabahnya.

Dampaknya terhadap harga saham, lanjut Atikah, tetap bergantung pada nilai transaksi, harga beli dibandingkan harga pasar, serta kondisi fundamental dan valuasi masing-masing emiten. Pembelian oleh pemegang saham utama juga tidak otomatis menjamin kenaikan harga jangka panjang.

“Untuk menjaga momentum kenaikan saham secara berkelanjutan, kinerja operasional, profitabilitas, dan prospek arus kas tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan investor,” pungkasnya.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update