Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Bisnis
Bisnis

Karhutla Tekan Bisnis Perhotelan, Okupansi Hotel di Wilayah Terdampak di Bawah 5 Persen

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 20 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
Ilustrasi hotel. Sejumlah hotel kini membatasi aktivitas pemotretan tanpa izin untuk menjaga privasi dan kenyamanan pengunjung.
Ilustrasi hotel. Sejumlah hotel kini membatasi aktivitas pemotretan tanpa izin untuk menjaga privasi dan kenyamanan pengunjung. Foto: Dok. Freepik/DC Studio

PahamEkonomi.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap berdampak terhadap aktivitas bisnis di sejumlah wilayah Indonesia. Industri perhotelan dan restoran menjadi salah satu sektor yang terdampak, dengan tingkat keterisian atau okupansi hotel di wilayah terdampak di Sumatera, Kalimantan, dan Papua dilaporkan merosot hingga di bawah 5 persen.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi BS Sukamdani mengatakan, pekatnya kabut asap membuat aktivitas masyarakat di luar rumah berkurang. Kondisi ini turut menekan kunjungan tamu ke hotel dan restoran.

"Boleh dibilang banyak yang enggak ada tamunya. Mungkin hanya sudah berkisaran 5 persen ke bawah itu okupansinya," ujar Hariyadi kepada Kompas.com, Senin (19/10/2026) malam.

Ia menggambarkan kondisi kabut asap di sejumlah daerah sudah mengkhawatirkan, baik bagi kesehatan masyarakat maupun kelangsungan kegiatan usaha.

"Parah banget. Kalau kita bicara Kalimantan, Sumatera, asapnya itu luar biasa. Sudah pada tahap membahayakan juga untuk tubuh," katanya.

Menurut Hariyadi, dampak karhutla tidak terbatas pada sektor perhotelan dan restoran. Gangguan mobilitas masyarakat turut memengaruhi sektor lain, termasuk penerbangan. Ketidakpastian mengenai kapan kondisi akan pulih juga menambah tekanan bagi pelaku usaha yang tetap harus memenuhi biaya operasional di tengah penurunan jumlah pelanggan.

"Betul-betul mode survival," katanya.

PHRI Soroti Penanganan Karhutla

Hariyadi menilai penanganan karhutla perlu dipercepat agar dampak terhadap masyarakat dan dunia usaha tidak semakin meluas. Ia menganggap upaya penanganan yang dilakukan belum menunjukkan perubahan berarti, sementara kebakaran dan kabut asap masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah.

"Enggak ada upaya yang terlihat, meluas terus," kata Hariyadi.

Ia juga menyinggung pemberitaan mengenai bantuan dari negara lain yang disebut ditolak. Menurut dia, kondisi tersebut menambah kekhawatiran di tengah situasi penanganan karhutla yang dinilai belum menunjukkan perbaikan.

PHRI berharap upaya pengendalian kebakaran dapat segera memberikan hasil sehingga kualitas udara membaik, aktivitas masyarakat kembali normal, dan kegiatan bisnis dapat berjalan lebih stabil.

Kemenhub Catat 2.604 Penerbangan Domestik Terdampak

Dampak kabut asap juga terlihat pada operasional penerbangan. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat 2.604 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak karhutla sejak 11 Agustus hingga 19 Oktober 2026.

Jumlah tersebut bertambah 146 penerbangan dibandingkan catatan per 17 Oktober 2026 yang mencapai 2.458 penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa menjelaskan, gangguan operasional mencakup keterlambatan, pembatalan atau penundaan, pengalihan ke bandar udara lain, hingga perubahan jadwal keberangkatan.

Rinciannya, sebanyak 1.129 penerbangan mengalami keterlambatan dan 1.420 penerbangan dibatalkan atau ditunda. Selain itu, 23 penerbangan dialihkan ke bandar udara lain, enam penerbangan kembali ke bandar udara keberangkatan, dan 26 penerbangan dimajukan jadwalnya.

Gangguan tersebut turut memengaruhi penerbangan dari dan menuju wilayah Sumatera serta Kalimantan selama periode 13–17 Oktober 2026, termasuk sejumlah rute yang berkaitan dengan Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Sebanyak 14 Penerbangan Internasional Dibatalkan

Selain penerbangan domestik, Kemenhub melaporkan pembatalan 14 penerbangan internasional akibat kabut asap di sejumlah bandar udara Indonesia.

"Tercatat 14 penerbangan internasional dibatalkan akibat dampak asap. Sebanyak 12 penerbangan rute Singapura-Pontianak pulang pergi pada 12-23 September 2026 dibatalkan akibat asap di Bandar Udara Supadio," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa dalam keterangannya, Senin malam (19/10/2026).

"Dua penerbangan rute Singapura-Palembang pulang pergi pada 15 Oktober 2026 dibatalkan akibat asap di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II," lanjut dia.

Pembatalan tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh perjalanan dalam negeri, tetapi juga mengganggu konektivitas penerbangan internasional pada rute tertentu.

Keselamatan Penerbangan Menjadi Prioritas

Lukman menegaskan bahwa setiap keputusan operasional penerbangan harus mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan. Faktor seperti cuaca, jarak pandang, dan hasil penilaian keselamatan menjadi dasar bagi maskapai serta pihak terkait untuk menentukan apakah penerbangan dapat dilaksanakan atau perlu disesuaikan.

"Keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Setiap keputusan operasional harus mempertimbangkan kondisi cuaca, jarak pandang, serta hasil penilaian keselamatan oleh pihak terkait," kata Lukman.

Gangguan penerbangan dan penurunan okupansi hotel memperlihatkan luasnya dampak karhutla terhadap aktivitas ekonomi. Selain menimbulkan risiko kesehatan, kabut asap dapat menghambat mobilitas masyarakat, mengurangi kunjungan wisatawan, serta menekan pendapatan pelaku usaha.

Pemulihan kondisi udara dan pengendalian kebakaran menjadi faktor penting untuk mendukung kembali normalnya kegiatan masyarakat dan operasional berbagai sektor usaha di wilayah terdampak.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update