Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Bisnis
Bisnis

Kadin: 58,2% Pelaku Usaha Konstruksi Tak Siap Hadapi Bencana

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 22 Oct 2026 👁️ 34x dibaca
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Inonesia (KADIN), Anindya Novyan Bakrie saat menyampaikan konferensi pers terkait Business Pulse Q3 di kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Inonesia (KADIN), Anindya Novyan Bakrie saat menyampaikan konferensi pers terkait Business Pulse Q3 di kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Foto: CNBC Indonesia/Martyasari Rizky

PahamEkonomi.com - Sebanyak 58,2% pelaku usaha sektor konstruksi mengaku kurang siap atau tidak siap menghadapi bencana alam dan cuaca ekstrem. Kondisi ini menjadi perhatian karena gangguan lingkungan berpotensi meningkatkan biaya operasional, menekan penjualan, serta menghambat transportasi dan logistik.

Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian mengatakan, survei Kadin Business Pulse Kuartal III-2026 menunjukkan 57,9% pelaku usaha anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengalami dampak bencana alam atau gangguan lingkungan dalam 12 bulan terakhir.

"Dari total responden kita, 57,9% itu dari anggota Kadin menyatakan bahwa usaha mereka terdampak," ujar Fakhrul dalam konferensi pers di Kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Berdasarkan hasil survei tersebut, dampak yang paling banyak dirasakan pelaku usaha adalah kenaikan biaya operasional, yang dilaporkan oleh 13,5% responden. Berikutnya, penurunan penjualan atau permintaan mencapai 11,8%, sedangkan gangguan transportasi dan logistik dilaporkan oleh 10,8% responden.

Dari sisi kesiapan menghadapi bencana, hanya 43,7% pelaku usaha yang menyatakan siap. Sementara itu, 44,5% responden mengaku kurang siap atau tidak siap.

Sektor konstruksi mencatat tingkat kesiapan yang relatif rendah. Sebanyak 58,2% responden di sektor ini menyatakan kurang siap atau tidak siap menghadapi bencana, sedangkan hanya 30,2% yang menyatakan siap.

Fakhrul menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kegiatan konstruksi sangat bergantung pada kondisi cuaca dan aktivitas di luar ruangan. Selain konstruksi, industri pengolahan juga menjadi sektor yang perlu diperhatikan dalam upaya memperkuat kesiapan menghadapi bencana.

Di antara berbagai jenis gangguan lingkungan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu yang paling banyak dilaporkan, dengan porsi 13% responden. Dampaknya turut dirasakan sektor properti. Sebanyak 21,4% responden sektor real estat melaporkan karhutla atau kabut asap sebagai salah satu jenis bencana yang memengaruhi usaha mereka.

"Karhutla ini mempengaruhi keputusan orang untuk membeli rumah atau membangun bangunan," ucapnya.

Risiko bencana tersebut menambah tantangan bagi dunia usaha di tengah kecenderungan penurunan rencana investasi. Fakhrul menyampaikan, proporsi pelaku usaha yang berencana berinvestasi dalam enam bulan ke depan turun menjadi 32,4% pada kuartal III-2026, dari 34,4% pada kuartal sebelumnya.

Angka tersebut tercatat menurun selama tiga kuartal berturut-turut. Menurut Fakhrul, tekanan bisnis mulai mereda, tetapi kondisi itu belum mendorong pelaku usaha menjadi lebih optimistis. Sebagian pelaku usaha justru memilih menunggu perkembangan situasi sebelum mengambil keputusan.

"Tekanan mereda, tapi pelaku usaha banyaknya berubahnya nggak ke optimis. Dari tadinya bisnis dilihat agak berat, itu berubah menjadi wait and see," ujar dia.

Untuk merespons risiko tersebut, Kadin Indonesia Institute merekomendasikan penguatan ketahanan usaha melalui pengembangan sistem peringatan dini, perlindungan infrastruktur dan jalur logistik, serta dukungan pembiayaan bagi usaha yang terdampak bencana.

Upaya mitigasi dinilai semakin penting di tengah perkiraan risiko El Nino yang masih berlanjut hingga awal 2027.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update