Iran Ubah Strategi Serang Kapal di Selat Hormuz untuk Jaga Harga Minyak Tinggi Jelang Pemilu AS
PahamEkonomi.com - Iran mengubah strategi serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz demi menjaga harga minyak dunia tetap tinggi menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada November 2026. Informasi ini disampaikan dua pejabat senior Iran kepada Reuters, Rabu (14/10/2026). Menurut salah satunya, taktik baru itu mulai dijalankan sekitar 10 hari lalu dan membuat jumlah serangan terhadap kapal bertambah.
“Tujuannya adalah untuk menggagalkan upaya Amerika Serikat dan sekutunya dalam menurunkan harga minyak global,” kata pejabat tersebut.
Strategi baru itu mencakup perubahan jenis dan intensitas serangan terhadap kapal yang dianggap melanggar pembatasan Teheran. Keputusan diambil pimpinan tertinggi Iran dan dikoordinasikan di seluruh jajaran pemerintahan.
Serangan Meluas hingga Teluk Oman
Data keamanan maritim menunjukkan lonjakan serangan terhadap kapal komersial di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Laporan kepada United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat sedikitnya lima insiden dalam 48 jam, termasuk serangan dengan pesawat nirawak (drone). Data Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyebut intensitasnya hampir menyamai periode 3-5 Oktober 2026.
“Terjadi peningkatan tempo serangan, yang tampaknya dilakukan dengan sengaja,” ujar seorang sumber keamanan maritim.
Pejabat Iran mengatakan operasi militer kini diperluas ke Teluk Oman dan perairan lain. Laporan keamanan maritim juga mengindikasikan serangan terhadap kapal di lepas pantai Qatar dan Uni Emirat Arab.
“Kapal-kapal semacam itu tidak akan aman di mana pun, bahkan di luar Selat Hormuz sekalipun,” kata pejabat Iran lainnya.
Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz
Teheran disebut berupaya memastikan tidak ada kapal yang melanggar pembatasannya bisa melintasi Hormuz.
“Dalam waktu dekat, penutupan akan dilakukan secara total,” ujarnya.
Pejabat lainnya menegaskan Iran tidak akan membiarkan Presiden AS Donald Trump menurunkan harga minyak sebelum pemilu November.
“Ini adalah permainan catur,” katanya.
Perang yang menelan biaya sekitar 3 miliar dolar AS (Rp53,8 triliun) per bulan itu menjadi isu kampanye menjelang pemilu yang menentukan kendali Kongres AS. Trump menyatakan tidak akan kembali menyerang Iran sebelum pemungutan suara, sementara Washington tetap memblokade pelabuhan Iran dan memperluas sanksi ekonomi.
Dalam laporan Minggu (11/10/2026), Joint Maritime Information Center (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS menetapkan ancaman terhadap kapal niaga di Hormuz pada tingkat berat, atau tertinggi kedua. JMIC mencatat serangan, pengawasan kapal, aktivitas drone, dan komunikasi radio oleh IRGC masih berlangsung.
Latar Belakang: Iran Kuasai Jalur Vital Minyak Dunia
Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, Teheran berupaya mengendalikan Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Pembatasan pelayaran dan ancaman serangan telah menghambat lalu lintas kapal dan mendorong harga minyak naik, meski sebagian pengiriman masih berjalan.
Pengamat di Kapal Kecil Gantikan Radar
Seorang pejabat militer AS membenarkan adanya perubahan taktik yang signifikan. Setelah sebagian besar kemampuan radar Iran dihancurkan AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mulai memakai pengamat tanpa senjata di kapal kecil untuk mengidentifikasi target, termasuk kapal perang AS.
Pekan lalu, militer AS menemukan sejumlah pengamat yang beroperasi dari kapal tradisional (dhow) untuk melaporkan posisi target kepada IRGC. Pasukan AS mencegat kapal itu, memerintahkan awaknya turun, lalu menghancurkannya tanpa korban jiwa.
Menurut pejabat AS tersebut, Iran kesulitan menahan peningkatan ekspor minyak lewat Hormuz karena tidak ingin kehilangan kapal cepat yang tersisa setelah angkatan lautnya dilumpuhkan. Hingga berita ini ditulis, Pentagon dan Kementerian Luar Negeri Iran belum menanggapi permintaan komentar.
