Investasi Emas Digital Indonesia Meningkat, Potensi Pasar Capai US$700 Miliar
PahamEkonomi.com - Indonesia menjadi salah satu pasar penting dalam perkembangan investasi emas digital global. Riset terbaru World Gold Council (WGC) bersama Boston Consulting Group (BCG) mengungkapkan bahwa potensi permintaan emas digital yang belum terealisasi secara global dapat mencapai 700 miliar dolar AS. Kemudahan akses melalui lembaga keuangan tepercaya dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong pertumbuhan investasi tersebut, termasuk di Indonesia.
Dalam riset bertajuk Digital Gold: Unlocking a $700-billion Opportunity, Indonesia mencatat tingkat kesadaran masyarakat terhadap emas digital tertinggi di antara 12 negara yang disurvei, yakni 76 persen. Capaian ini menunjukkan besarnya pengenalan masyarakat terhadap instrumen investasi tersebut.
Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks di World Gold Council, Shaokai Fan, menilai pengalaman Indonesia memperlihatkan peran lembaga keuangan yang telah dikenal masyarakat dalam memperluas akses investasi emas.
“Indonesia menunjukkan bagaimana akses melalui lembaga yang sudah dikenal dan terpercaya dapat memperluas jangkauan investasi emas,” kata Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks di World Gold Council Shaokai Fan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan bahwa integrasi emas digital ke dalam layanan keuangan dapat membuat investasi lebih mudah dijangkau oleh berbagai kelompok masyarakat.
“Kehadiran emas digital melalui berbagai layanan keuangan memungkinkan masyarakat berinvestasi dengan lebih mudah dan dalam nominal yang lebih terjangkau,” katanya menambahkan.
Pegadaian dan BSI Perluas Akses Emas Digital
Di Indonesia, akses terhadap emas digital yang didukung emas fisik dan disimpan di fasilitas penyimpanan telah tersedia melalui lembaga keuangan, termasuk Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Menurut laporan tersebut, sekitar lima juta nasabah di Indonesia telah melakukan transaksi emas digital. Kehadiran layanan melalui lembaga yang sudah dikenal masyarakat dinilai dapat membantu memperluas partisipasi sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap instrumen investasi ini.
Fan menyebut tingginya kesadaran masyarakat dan meningkatnya partisipasi sebagai sinyal positif bagi perkembangan pasar emas digital di Indonesia.
“Tingginya kesadaran dan meningkatnya partisipasi masyarakat Indonesia terhadap emas digital menjadi sinyal positif bagi perkembangan pasar di Indonesia. Ke depan, penguatan kepercayaan dan kemudahan akses akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ini,” ujar Fan.
Menurut WGC dan BCG, penguatan kepercayaan konsumen serta penyediaan layanan yang mudah diakses menjadi aspek penting untuk mendorong pertumbuhan pasar secara berkelanjutan.
Emas Digital Berbasis Emas Fisik Mendominasi Pasar
Laporan WGC dan BCG juga menggambarkan besarnya peran emas digital yang didukung emas fisik atau vaulted digital gold dalam industri ini.
Secara global, produk tersebut mencakup 89 persen dari total nilai pasar emas digital. Lebih dari separuh nilai kepemilikannya terkonsentrasi di tiga negara, yakni Tiongkok, India, dan Indonesia.
Model investasi ini menghubungkan kepemilikan emas secara digital dengan emas fisik yang disimpan di fasilitas penyimpanan. Dengan mekanisme tersebut, masyarakat dapat mengakses investasi emas melalui layanan digital tanpa harus menyimpan emas batangan secara mandiri.
Meski demikian, kemudahan akses tetap perlu diiringi kejelasan mengenai penyimpanan emas, ketentuan transaksi, biaya layanan, serta hak dan kewajiban nasabah pada masing-masing penyedia layanan.
Pasar Emas Digital Berpotensi Mencapai US$170 Miliar pada 2031
Saat ini, nilai pasar emas digital diperkirakan berada pada kisaran 45–55 miliar dolar AS. Laporan WGC dan BCG menilai pasar tersebut masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar apabila berbagai kendala dalam adopsi dapat dikurangi.
Potensi permintaan yang belum terealisasi atau latent demand diperkirakan mencapai 700 miliar dolar AS. Angka tersebut menggambarkan estimasi keseluruhan peluang permintaan yang dapat dibuka apabila hambatan adopsi berhasil diatasi, bukan proyeksi bahwa pasar akan langsung tumbuh sebesar nilai tersebut dalam waktu dekat.
Dalam skenario dasar (base case) untuk lima tahun ke depan, laporan itu memperkirakan pasar emas digital tumbuh rata-rata sekitar 27 persen per tahun. Dengan asumsi tersebut, nilai pasar diproyeksikan mencapai 160–170 miliar dolar AS pada 2031.
Apabila hambatan adopsi dapat diatasi lebih cepat dan lebih banyak kendala berhasil dihilangkan, nilai pasar berpotensi mencapai 270–280 miliar dolar AS dalam periode yang sama.
Proyeksi tersebut memperlihatkan peluang pengembangan emas digital di tengah meningkatnya akses layanan keuangan. Namun, realisasi pertumbuhan akan bergantung pada kemampuan pelaku industri memperluas jangkauan layanan, mempertahankan kepercayaan masyarakat, dan mengatasi berbagai hambatan yang masih membatasi adopsi.
Bagi Indonesia, tingginya kesadaran masyarakat menjadi modal awal untuk memperluas partisipasi investasi emas digital. Ke depan, kemudahan transaksi, transparansi layanan, dan kepercayaan terhadap penyedia produk akan menjadi faktor penting dalam menentukan perkembangan pasar di dalam negeri.
