Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Industri
Industri

Industri Gim Indonesia Berpotensi Hasilkan Nilai Tambah Rp59 Triliun pada 2030

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 23 Oct 2026 👁️ 23x dibaca
Peluncuran white paper oleh Access Partnership dan Tencent untuk memetakan potensi industri gim di Asia Tenggara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, (22/10/2026).
Peluncuran white paper oleh Access Partnership dan Tencent untuk memetakan potensi industri gim di Asia Tenggara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, (22/10/2026). Foto: Tencent

PahamEkonomi.com - Industri gim Indonesia berpotensi menghasilkan nilai tambah hingga US$3,3 miliar atau setara Rp59 triliun dan mendukung 476.600 lapangan kerja pada 2030. Potensi tersebut tercantum dalam laporan Access Partnership bersama Tencent yang menyoroti peluang pengembangan industri gim sebagai salah satu penggerak ekonomi digital dan kreatif di Asia Tenggara.

Dalam skenario pertumbuhan yang lebih moderat, nilai tambah industri gim Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar US$2,8 miliar dengan dukungan terhadap 416.600 lapangan kerja pada 2030.

Temuan tersebut dimuat dalam white paper berjudul The Video Game Industry: Unlocking the Next Level of Economic and Social Development in Southeast Asia, yang dirilis dalam gelaran World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta.

Laporan tersebut mengkaji kontribusi industri gim di lima negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Secara keseluruhan, industri gim di kelima negara itu diperkirakan menghasilkan pendapatan US$9,1 miliar pada 2025.

Studi tersebut mencakup seluruh rantai nilai industri gim, mulai dari pengembangan dan penerbitan gim, manufaktur perangkat keras dan aksesori, ritel, hingga ekosistem esports. Laporan itu juga menyoroti peran industri dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, mendorong inovasi, dan memperluas aktivitas ekonomi digital.

Pendapatan industri gim Indonesia mencapai US$1,3 miliar

Di Indonesia, industri gim diperkirakan menghasilkan pendapatan sebesar US$1,3 miliar atau setara Rp23,4 triliun pada 2025. Kontribusinya terhadap perekonomian diperkirakan mencapai US$1,8 miliar atau sekitar Rp32,4 triliun, dengan dukungan terhadap sekitar 257.400 lapangan kerja.

Meski memiliki pasar yang besar, kontribusi ekonomi industri gim nasional masih didominasi sektor yang berkaitan dengan perangkat keras dan distribusi. Perangkat keras dan periferal menyumbang 47% dari total kontribusi yang diuraikan dalam laporan, diikuti esports sebesar 24% dan ritel sebesar 22%.

Sementara itu, pengembangan dan penerbitan gim hanya menyumbang 7%.

Komposisi tersebut menunjukkan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran dalam segmen yang menghasilkan nilai tambah jangka panjang, seperti pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) lokal, produksi gim, teknologi, dan pengembangan talenta.

Penguatan sektor tersebut juga dapat membuka peluang bagi studio lokal untuk membangun bisnis berkelanjutan dan menjangkau pasar internasional.

Ekosistem dan talenta menjadi kunci pertumbuhan

Laporan Access Partnership dan Tencent menekankan bahwa perkembangan industri gim tidak hanya diukur dari pendapatan, tetapi juga dari dampaknya terhadap lapangan kerja dan sektor ekonomi lain.

Industri ini membuka peluang karier di berbagai bidang, termasuk desain, animasi, pemrograman, produksi, pemasaran, dan pembuatan konten. Pengembangan gim lokal juga berpotensi memperkuat IP nasional serta memberikan dampak lanjutan bagi sektor pariwisata, penyelenggaraan acara, ekonomi digital, dan industri kreatif.

Di lima negara yang dikaji, laporan tersebut mencatat kontribusi industri gim terhadap penciptaan lapangan kerja, dengan porsi pendapatan yang signifikan berasal dari ekspor. Ekosistem ini turut ditopang perusahaan gim internasional yang beroperasi secara lokal, termasuk melalui kegiatan penerbitan untuk pasar regional maupun global.

Untuk memaksimalkan peluang tersebut, Indonesia dinilai membutuhkan ekosistem yang mendukung pengembang dan kreator lokal. Beberapa aspek yang disoroti meliputi akses pembiayaan, jalur pengembangan dan komersialisasi IP, pendidikan serta pelatihan talenta yang sesuai kebutuhan industri, dan koneksi yang lebih kuat dengan pasar internasional.

Kerangka kebijakan juga dinilai perlu menjaga perlindungan pengguna tanpa menghambat inovasi dan investasi.

Tencent soroti peluang pengembangan studio lokal

Director of Global Public Affairs (APAC) Tencent, Monrawee Ampolpittayanant (Lynn), mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan industri gim yang tidak hanya bertumpu pada besarnya pasar domestik, tetapi juga pada kapasitas produksi dan kreativitas lokal.

“Peluang saat ini adalah mengubah kekuatan pasar Indonesia menjadi ekosistem kreatif dan produksi yang lebih kuat. Di dalamnya, studio lokal dapat mengembangkan IP orisinal, membangun bisnis yang berkelanjutan, dan terhubung dengan audiens di seluruh dunia. Kami berharap riset ini dapat mendorong dialog lebih lanjut antara pemerintah, industri dan komunitas kreatif mengenai kondisi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tersebut.”

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya membangun ekosistem yang memungkinkan pelaku industri lokal mengembangkan produk orisinal, memperkuat kapasitas bisnis, dan memperluas jangkauan pasar.

Industri gim Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh hingga 2030

Secara regional, industri gim di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand diproyeksikan menghasilkan nilai tambah sebesar US$12,2 miliar pada 2030 serta mendukung sekitar 1,01 juta lapangan kerja.

Sumber kontribusi ekonomi industri ini berbeda di setiap negara. Aktivitas manufaktur menjadi pendorong utama kontribusi industri gim di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Di Filipina, sektor ritel memiliki peran lebih besar, sedangkan Singapura lebih terkonsentrasi pada segmen bernilai tambah tinggi, seperti pengembangan dan penerbitan gim.

Proyeksi tersebut menunjukkan besarnya peluang industri gim bagi ekonomi digital Asia Tenggara. Namun, realisasi potensi itu bergantung pada dukungan kebijakan strategis, pengembangan sumber daya manusia, akses pembiayaan, dan kondisi pasar yang mendukung investasi serta inovasi.

Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah meningkatkan peran pengembang lokal dalam rantai nilai industri agar pertumbuhan pasar dapat diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi, pengembangan IP nasional, dan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update