Harga Minyak Brent Anjlok 16,57% Sepekan, Konflik Iran Jadi Sorotan Pasar
PahamEkonomi.com - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam sepanjang pekan ini. Pelemahan tersebut terjadi setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS) meningkatkan harapan terhadap kemungkinan meredanya konflik AS-Israel dengan Iran.
Meski demikian, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan masih membayangi pasar menyusul berlanjutnya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.
Mengutip data Refinitiv, pada perdagangan Jumat (7/11/2026), harga minyak mentah Brent tercatat sebesar US$98,15 per barel. Angka tersebut mencerminkan pelemahan 16,57% sepanjang pekan ini.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan pasar AS turun 12,88% dalam sepekan menjadi US$90,72 per barel.
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai penurunan tersebut menunjukkan mulai berkurangnya premi risiko perang yang selama ini menopang harga minyak.
"Sepertinya ada sedikit pelonggaran premi perang yang sedang terjadi," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, mengutip dari Refinitiv pada Sabtu (11/7/2026).
Hasil pemilihan paruh waktu AS turut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan de-eskalasi konflik Iran dan peningkatan ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut.
Namun, hasil pemilu juga memunculkan ekspektasi mengenai regulasi AS yang lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan (AI). Perkembangan ini turut memicu penurunan tajam saham teknologi pada Kamis.
Pasokan Minyak Mulai Longgar, Risiko Selat Hormuz Masih Membayangi
Di pasar minyak, indikasi kelebihan pasokan semakin terlihat di tengah melemahnya permintaan. Kondisi tersebut diperkuat oleh premi spot minyak mentah acuan Timur Tengah yang kembali ke level sebelum konflik berlangsung.
Analis pasar minyak Rystad, Janiv Shah, mengatakan pasar minyak mentah mulai bergerak menuju kondisi kelebihan pasokan berdasarkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Meski demikian, perbedaan kualitas minyak dan keterbatasan jalur distribusi masih menjadi tantangan bagi kilang.
"Pasar minyak mentah melonggar menuju kondisi kelebihan pasokan berdasarkan keseimbangan, tetapi perbedaan kualitas masih ada karena kilang mengambil apa yang dapat mereka ambil dibandingkan dengan apa yang tersedia," kata analis pasar minyak Rystad, Janiv Shah, sambil menunjuk pada rute pengiriman yang lebih panjang dan kebutuhan transfer antar kapal sebagai solusi alternatif di dekat Selat Hormuz.
Shah menambahkan, pasar masih menunggu kepastian perkembangan diplomatik terkait konflik Iran. Kesepakatan yang benar-benar ditandatangani dapat memperkuat ekspektasi normalisasi pasokan, sedangkan reaksi negatif dari salah satu pihak berpotensi kembali memperketat kondisi pasar.
"Pasar masih mencari bukti adanya kesepakatan pasti yang ditandatangani (tentang Iran), atau reaksi negatif dari salah satu pihak dapat memperketat fundamental sekali lagi."
Sebelumnya, harga minyak sempat anjlok sekitar 8% hanya dalam perdagangan Rabu setelah Partai Demokrat menyapu bersih pemilihan paruh waktu AS. Penurunan tersebut membawa harga minyak ke level terendah dalam dua bulan.
Namun, harga kembali menguat setelah terjadi peningkatan serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Perkembangan itu kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran arus pasokan minyak dari Timur Tengah.
Seorang manajer perusahaan pelayaran Yunani mengatakan pada Jumat bahwa seorang pelaut tewas akibat ledakan pada 5 November di sebuah kapal tanker produk minyak di Teluk. Insiden tersebut diyakini disebabkan oleh serangan rudal.
Data badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, juga menunjukkan serangan terhadap kapal pengangkut minyak masih berlangsung dengan frekuensi mendekati rekor tertinggi.
Pasar Minyak Masih Dibayangi Ketidakpastian
Meski harga minyak mengalami penurunan tajam, pelaku pasar menilai risiko fundamental belum sepenuhnya hilang. Gangguan keamanan jalur pelayaran dan ketidakpastian konflik masih dapat memicu perubahan harga secara cepat.
Matt Stanley dari perusahaan pelacak kapal tanker dan analis aliran energi Kpler mengingatkan bahwa penurunan harga tidak otomatis berarti persoalan pasokan telah selesai.
"Harga minyak tidak harus mencapai $117 untuk dianggap mahal, dan penurunan hingga $93 bukan berarti masalah mendasar telah hilang," kata Matt Stanley dari Kpler, perusahaan pelacak kapal tanker dan analis aliran energi.
Ia juga menilai dinamika pasar minyak sepanjang pekan ini tergolong tidak biasa.
"Setelah lebih dari 25 tahun berkecimpung di bisnis ini, jujur saja saya tidak ingat banyak minggu yang seperti minggu ini."
Dengan demikian, arah harga minyak dunia masih akan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni peluang meredanya konflik di Timur Tengah dan risiko gangguan distribusi melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz.
