Banjir Impor Petrokimia Murah Ancam Investasi dan Industri Nasional
PahamEkonomi.com - Banjir produk petrokimia impor berharga murah menjadi tekanan bagi industri dalam negeri. Selain mengancam daya saing produsen nasional, kondisi tersebut berpotensi menghambat rencana investasi baru dan penambahan kapasitas produksi di sektor hulu petrokimia.
Tekanan ini terjadi di tengah kelebihan pasokan produk petrokimia di pasar global. Produsen dari berbagai negara, termasuk China, kini mencari pasar ekspor untuk menyerap kelebihan produksi mereka, salah satunya Indonesia.
Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian, Sri Bimo Pratomo, mengatakan ekspansi kapasitas industri petrokimia di China telah menyebabkan negara tersebut mengalami kelebihan pasokan. Situasi serupa juga terjadi di sejumlah negara lain sehingga produk impor dengan harga murah semakin banyak masuk ke pasar Indonesia.
“Dengan adanya oversupply ini tentu produsen petrokimia dunia ini mencari pasar. Pasar mana saja yang ada,” kata Bimo dalam media gathering Forum Wartawan Industri (Forwin), Sabtu, 7 November 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi industri petrokimia nasional yang harus bersaing dengan produk impor dari China maupun negara-negara ASEAN. Padahal, sektor petrokimia merupakan industri hulu yang memasok bahan baku bagi berbagai sektor manufaktur.
Bimo mencontohkan produk polyethylene dan polypropylene. Kapasitas produksi nasional untuk kedua jenis produk tersebut baru mampu memenuhi sekitar 60 hingga 66 persen kebutuhan domestik.
Namun, masuknya produk impor berharga murah dapat mengganggu rencana pelaku industri untuk meningkatkan investasi maupun kapasitas produksi di dalam negeri.
“Karena banjir dari produk impor yang murah sehingga ini akan mengganggu untuk teman-teman yang akan meningkatkan investasi atau meningkatkan kapasitas,” ujarnya.
Tekanan serupa juga terjadi pada produk polyvinyl chloride (PVC). Indonesia memiliki kapasitas produksi mencapai 1,2 juta ton per tahun, sedangkan permintaan domestik pada 2027 diperkirakan sebesar 873 ribu ton.
Meski kapasitas produksi nasional secara teoritis mampu memenuhi kebutuhan tersebut, produk impor masih masuk dan bersaing di pasar dalam negeri.
Inaplas Soroti Tekanan Impor Bahan Baku Plastik
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, turut menyoroti peningkatan impor bahan baku plastik yang berdampak terhadap tingkat utilisasi industri nasional.
Ia juga mengingatkan adanya persaingan dengan produsen luar negeri yang memiliki keunggulan dalam pasokan bahan baku serta kapasitas produksi berlebih.
Menurut Fajar, Indonesia perlu memperkuat industri petrokimia secara terintegrasi, mulai dari sektor hulu hingga hilir, agar tidak terus menghadapi tekanan produk impor.
Salah satu langkah yang didorong adalah penyusunan kebijakan harga yang adil bagi industri petrokimia nasional. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk mendukung keberlanjutan industri sekaligus memperkuat ketahanan sektor petrokimia dalam negeri.
“Kalau tidak ada fair price, ketahanan industri petrokimianya” akan sulit diperkuat, kata Fajar.
