Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Industri
Industri

Harga Emas dan Perak Diprediksi Menguat pada 2027, Ini Faktor Pendorongnya

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 28 Oct 2026 👁️ 9x dibaca
Ilustrasi emas.
Ilustrasi emas. Foto: Freepik

PahamEkonomi.com - Harga emas dan perak dunia diperkirakan berpeluang kembali menguat pada 2027. Prospek pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), tingginya pembelian emas oleh bank sentral, serta meningkatnya kebutuhan perak untuk industri menjadi sejumlah faktor yang berpotensi menopang harga kedua logam mulia tersebut.

Analis Mata Uang sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan pergerakan harga emas dan perak pada tahun depan.

"Begitu tekanan inflasi benar-benar menunjukkan tren melandai secara struktural, The Fed mau tidak mau harus bersiap melonggarkan kebijakan moneternya secara lebih pasti," kata dia kepada Kompas.com, Rabu (28/10/2026).

Menurut Wahyu, penurunan suku bunga riil berpotensi mengurangi biaya peluang (opportunity cost) bagi investor yang memegang logam mulia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik emas dan perak dibandingkan instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil berbasis suku bunga.

Selain kebijakan moneter, permintaan emas dari bank sentral global diperkirakan tetap menjadi penopang harga. Sementara itu, perak berpotensi memperoleh dukungan dari kebutuhan industri, terutama untuk mendukung transisi energi hijau dan perkembangan teknologi.

Wahyu menilai, kombinasi permintaan dari sektor keuangan dan industri tersebut dapat membantu menjaga harga kedua komoditas pada awal 2027.

Risiko Krisis Global Bisa Mendorong Permintaan Emas

Selain faktor suku bunga dan kebutuhan industri, ketidakpastian ekonomi global juga berpotensi meningkatkan minat investor terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Penguatan dollar AS maupun lonjakan harga minyak dunia dapat menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi global. Jika kondisi tersebut memburuk, dampaknya berpotensi meluas ke pasar negara berkembang (emerging market), Eropa, hingga Amerika Serikat.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, emas berpotensi kembali menjadi pilihan investor untuk melindungi nilai asetnya.

"Sehingga safe haven terutama emas bisa kembali bersinar," ucap dia.

Meski demikian, pergerakan harga emas dan perak tetap dipengaruhi perkembangan inflasi, arah kebijakan bank sentral, kondisi geopolitik, serta perubahan permintaan pasar.

Harga Emas Dunia Berpotensi Tembus 5.000 Dollar AS

Menjelang akhir 2026, Wahyu memperkirakan harga emas dunia masih memiliki peluang melanjutkan tren positif. Ia menyebut konsensus sejumlah lembaga keuangan global dan analis komoditas menempatkan harga emas di pasar spot (XAUUSD) pada kisaran 4.300 dollar AS hingga 5.000 dollar AS per troy ounce menjelang penutupan tahun.

Menurutnya, prospek tersebut akan semakin terbuka apabila The Fed menunjukkan kecenderungan melonggarkan kebijakan moneternya.

"Dalam pandangan optimis, jika outlook The Fed akhirnya lebih cenderung melonggar maka bullish medium term potensial akan terus berlanjut bukan mustahil XAUUSD bisa potensial menguji atau bahkan menembus all time high (ATH) akhir tahun," ucap dia.

Dalam skenario moderat, harga emas diperkirakan bergerak relatif stabil dan menguji level 4.500 dollar AS per troy ounce.

Sementara itu, jika inflasi global terus mereda dan ketegangan geopolitik tidak meningkat secara signifikan, emas berpeluang melanjutkan penguatan menuju kisaran 4.800 dollar AS hingga 4.900 dollar AS per troy ounce.

Sebaliknya, apabila The Fed memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif dibandingkan perkiraan pasar, harga emas berpotensi mengalami koreksi ke rentang 4.000 dollar AS hingga 3.500 dollar AS per troy ounce.

"Sekitar 4.000–3.500 dollar AS per troy ounce," tutup dia.

Harga Emas Naik 1 Persen pada Perdagangan Terakhir

Sebagai gambaran kondisi pasar terkini dalam laporan tersebut, harga emas dunia naik sekitar 1 persen pada akhir perdagangan Selasa (27/10/2026) waktu AS atau Rabu (28/10/2026) WIB. Penguatan terjadi ketika harga minyak turun dan investor menantikan hasil pertemuan bank sentral AS.

Harga emas di pasar spot tercatat naik 1 persen menjadi 4.055,14 dollar AS per ons, setelah sebelumnya menyentuh level terendah harian di 3.987,14 dollar AS per ons.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap kebijakan The Fed masih menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar. Namun, proyeksi harga hingga akhir 2026 maupun sepanjang 2027 tetap bergantung pada perkembangan ekonomi global dan keputusan kebijakan moneter yang akan datang.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update