Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Keuangan
Keuangan

Hannah Asa Indonesia Bekali Petani Milenial Sigi dengan Literasi Keuangan

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 22 Oct 2026 👁️ 11x dibaca
Hannah Asa Indonesia membekali petani milenial di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dengan pemahaman literasi keuangan untuk memperkuat kemampuan mengelola usaha tani secara produktif dan berkelanjutan.
Hannah Asa Indonesia membekali petani milenial di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dengan pemahaman literasi keuangan untuk memperkuat kemampuan mengelola usaha tani secara produktif dan berkelanjutan. Foto: ANTARA/HO-Hannah Asa Indonesia

PahamEkonomi.com - Komunitas Hannah Asa Indonesia membekali petani milenial di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dengan pemahaman literasi keuangan untuk memperkuat kemampuan mengelola usaha tani secara produktif dan berkelanjutan.

Pendiri Hannah Asa Indonesia Mardiyah mengatakan, kemampuan mengelola keuangan menjadi bekal penting bagi petani dalam mengambil keputusan usaha berdasarkan kondisi keuangan yang terukur.

“Kemampuan mengelola keuangan merupakan bagian penting dari penguatan kapasitas petani, terutama untuk membantu mereka mengambil keputusan usaha berdasarkan kondisi keuangan yang terukur,” kata Mardiyah di Sigi, Kamis.

Menurut dia, petani tidak hanya berperan sebagai pelaku produksi, tetapi juga sebagai pengelola usaha yang perlu merencanakan kebutuhan produksi, mengendalikan biaya, mengenali pasar, mengelola pendapatan, serta menyiapkan modal untuk siklus produksi berikutnya.

Karena itu, petani perlu memiliki keterampilan praktis dalam mencatat transaksi, menghitung biaya produksi, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, serta merencanakan kebutuhan modal.

Materi bertajuk “Petani Milenial Cerdas Finansial, Usaha Tumbuh Berkelanjutan” yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mencakup pengelolaan biaya produksi, pencatatan transaksi, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta perencanaan modal kerja.

Petani juga mendapat pemahaman mengenai perbedaan biaya tetap dan biaya variabel sebagai dasar menghitung harga pokok produksi (HPP), menentukan harga jual, dan memperkirakan keuntungan usaha.

Mardiyah menjelaskan, pengelolaan modal kerja juga perlu diperhatikan agar petani dapat memenuhi kebutuhan sarana produksi, membayar tenaga kerja, dan menutup biaya operasional sebelum menerima hasil penjualan.

Pendekatan tersebut menempatkan literasi keuangan sebagai keterampilan praktis untuk membantu petani mengevaluasi kondisi usaha, menentukan kebutuhan modal, dan menyusun rencana pengembangan secara bertahap.

Sementara itu, Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah Moh. Saleh mengatakan, pengembangan program Berani Menjadi Petani Milenial perlu didukung kesiapan petani dalam menjalankan usaha, dukungan produksi, akses pasar, dan penguatan kelembagaan.

“Selain keterampilan teknis dalam produksi, petani perlu memahami manajemen usaha, pengembangan kelembagaan, pemasaran, dan pengelolaan keuangan agar kegiatan pertanian dapat berkembang menjadi usaha produktif yang memberikan nilai tambah,” ujarnya.

Menurut Saleh, keterpaduan berbagai aspek tersebut diperlukan agar usaha pertanian dapat berkembang dan memiliki keberlanjutan secara bertahap.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update