Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Bisnis
Bisnis

Employee Well-Being Jadi Kunci Bisnis Berkelanjutan, Ini Penjelasan KTM Solutions di IHCBS 2026

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 17 Oct 2026 👁️ 31x dibaca
KTM Solutions dalam sesi sharing di Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 (15?16/9/2026) di PIK 2, Tangerang.
KTM Solutions dalam sesi sharing di Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 (15?16/9/2026) di PIK 2, Tangerang. Foto: DOK. KTMS

PahamEkonomi.com - Kesejahteraan pekerja (employee well-being) kini tidak lagi dipandang sebagai fasilitas tambahan, melainkan bagian dari strategi keberlanjutan bisnis dan penerapan nilai Environmental, Social, and Governance (ESG). Pandangan ini mengemuka dalam sesi KTM Solutions di Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 di Tangerang, yang menekankan bahwa keberlanjutan perusahaan bergantung pada cara organisasi menjaga modal manusianya (human capital).

Persoalannya nyata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan menyebabkan kerugian produktivitas hingga mendekati US$ 1 triliun. Survei global 2025 juga menunjukkan sekitar 25 persen pekerja mengalami stres berat karena khawatir kehilangan pekerjaan. Burnout dan kecemasan atas kepastian kerja (job security) pun tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga mengancam daya tahan organisasi.

Director of Strategic & Advisory KTM Solutions Ivan Ahda menilai perusahaan selama ini terlalu sering menyerahkan burnout sebagai urusan pribadi pekerja.

“Kita terlalu sering menjadikan burnout sebagai tanggung jawab individu dengan meminta mereka lebih mampu mengelola stres,” ungkap Ivan Ahda, Director of Strategic & Advisory KTM Solutions, dalam perhelatan Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 di Tangerang. “Namun ketika burnout terus berulang, mungkin yang perlu kita lihat bukan lagi hanya individunya, tetapi juga lingkungan dan cara kerja yang membentuk keseharian mereka,” tegasnya. “Sustainable business membutuhkan sustainable contribution. Dengan perspektif itu, kepentingan bisnis dan wellbeing sebenarnya tidak perlu ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Wellbeing menjaga kapasitas manusianya, dan kapasitas manusia menjaga keberlanjutan bisnisnya,” jelasnya.

Tiga Tahap Perusahaan Memandang Wellbeing

Dalam sesi bertajuk “The Burnout Audit: Detecting Organizational Fatigue Before Turnover Occurs”, KTM Solutions memaparkan bahwa kesadaran perusahaan terhadap kesejahteraan pekerja berkembang melalui tiga tahap:

  • Benefit Based Wellbeing: wellbeing dilihat sebatas manfaat fisik atau finansial, seperti asuransi kesehatan, seminar, dan fasilitas olahraga.
  • Programmatic Wellbeing: perusahaan mulai aktif mengukur employee experience lewat program khusus, misalnya employee assistance, jadwal kerja fleksibel (flexible working), dan pelatihan kesehatan mental.
  • Systemic Wellbeing: wellbeing menyatu dalam desain dan kultur organisasi. Evaluasinya tidak berhenti pada program apa yang diberikan, tetapi menilai apakah rancangan beban kerja (job design), kepemimpinan (leadership), dan sistem alokasi sumber daya memungkinkan pekerja berkontribusi secara berkelanjutan.

Lima Dimensi Career Wellbeing

Agar pendekatannya menyeluruh, kesejahteraan karier pekerja ditinjau dari lima dimensi (Career Wellbeing):

  • Sosial (Social Wellbeing): kualitas hubungan kerja, rasa saling mendukung (sense of belonging), dan interaksi positif di organisasi.
  • Psikologis (Psychological Wellbeing): kepuasan, kebahagiaan, rasa bermakna (sense of meaning) dalam bekerja, dan kesehatan mental yang terjaga.
  • Lingkungan (Environmental Wellbeing): rasa aman dan nyaman, kesesuaian fasilitas, serta dukungan tata kerja di tempat bekerja.
  • Finansial (Financial Wellbeing): kemampuan memenuhi kebutuhan hidup, rasa aman finansial, dan perencanaan keuangan masa depan yang stabil.
  • Fisik (Physical Wellbeing): stamina dan kondisi fisik yang terjaga untuk menjalankan tuntutan pekerjaan secara optimal.

Membangun Contribution Awareness

Burnout dan cemas kehilangan pekerjaan kerap membuat pekerja mengorbankan keseimbangan hidup dan kerja (work life balance) demi membuktikan nilai diri kepada perusahaan. Menurut Ivan, solusinya bukan menuntut setiap pekerja menghasilkan pendapatan (revenue) secara langsung.

“Untuk menjembatani kontribusi pekerja dan keberlanjutan organisasi, pendekatan yang dibutuhkan bukanlah menuntut pekerja selalu menghasilkan pendapatan (revenue) secara langsung, melainkan membangun contribution awareness,” jelas Ivan.

Ia menyebut banyak peran menciptakan nilai (value) lewat efisiensi, peningkatan kualitas, retensi pelanggan, pencegahan risiko, hingga inovasi. Karena itu, organisasi perlu menyediakan penilaian kinerja yang transparan dan berbasis kontribusi nyata, membuka ruang pengembangan kapasitas, serta menciptakan rasa aman berkarier (career security).

“Tantangan utama bisnis masa depan bukan memilih antara wellbeing atau kinerja finansial, melainkan merancang tata kerja di mana manusia dapat terus menciptakan nilai bagi bisnis tanpa mengorbankan kapasitas dan kesehatan dirinya,” pungkasnya.

Career Wellbeing Assessment di IHCBS 2026

Selain berbagi wawasan, KTM Solutions menghadirkan Career Wellbeing (CWB) Assessment dalam IHCBS 2026 yang berlangsung pada 15-16 September 2026. Lewat asesmen ini, pengunjung bisa melihat gambaran kondisi career wellbeing mereka berdasarkan lima dimensi di atas, sehingga lebih memahami kaitannya dengan perjalanan karier masing-masing.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update