Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Keuangan
Keuangan

Ekonom Terbelah soal BI-Rate Oktober 2026: Tahan di 5,75 Persen atau Naik ke 6 Persen?

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 21 Oct 2026 👁️ 31x dibaca
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.

PahamEkonomi.com - Proyeksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) untuk Oktober 2026 belum seragam di kalangan ekonom. Sebagian memperkirakan BI menahan suku bunga di 5,75 persen, sedangkan yang lain menilai kenaikan 25 basis poin menjadi 6 persen perlu ditempuh untuk meredam tekanan rupiah dan risiko keluarnya modal asing.

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI dijadwalkan diumumkan pada Rabu siang. Pasar menanti keputusan tersebut di tengah ketidakpastian global dan kekhawatiran atas usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Kubu yang Memprediksi BI Menahan Suku Bunga

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky memperkirakan BI masih akan mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah dan risiko arus keluar modal bisa memperkuat alasan untuk menaikkan bunga jika kondisi kurs memburuk.

Menurut Riefky, ruang gerak kebijakan BI kian sempit. Tekanan inflasi baru di Amerika Serikat berpotensi menahan suku bunga di negara itu tetap tinggi lebih lama, sehingga menambah beban bagi rupiah dan arus modal. Di dalam negeri, naiknya harga pangan dan bahan bakar membuat inflasi mendekati batas atas sasaran BI.

Arus portofolio asing juga masih bergerak beragam di tengah ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Pada pertengahan September hingga pertengahan Oktober 2026, Indonesia mencatat arus keluar portofolio asing bersih sekitar 0,05 miliar dolar AS. Arus masuk ke obligasi pemerintah sebesar 0,69 miliar dolar AS tidak cukup menutup arus keluar dari pasar saham sebesar 0,73 miliar dolar AS.

Rupiah pun tertekan. Mata uang Garuda melemah 1,22 persen secara bulanan, dari Rp17.680 per dolar AS pada 15 September 2026 menjadi Rp17.895 per dolar AS pada 14 Oktober 2026. Sejak awal tahun, pelemahannya mencapai 8,30 persen.

Kubu yang Memprediksi Kenaikan 25 Basis Poin

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan BI menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 6 persen guna mengantisipasi ketidakpastian eksternal dan risiko arus keluar modal akibat proposal reklasifikasi MSCI.

“Perkembangan ini menjadi game changer meskipun keputusan final belum diambil, investor dapat mengurangi eksposur lebih awal sehingga tekanan terhadap rupiah perlu diantisipasi,” kata Faiz.

Faiz menilai daya tarik aset rupiah perlu diperkuat di tengah tingginya imbal hasil global dan kebutuhan membiayai defisit transaksi berjalan. Tim ekonom Bank Danamon melihat alasan yang makin kuat bagi BI untuk bertindak lebih dulu (preemptive). Pertimbangannya tak hanya level kurs, tetapi juga kecepatan pelemahan, keberlanjutan arus keluar modal, serta dampaknya terhadap inflasi dan kepercayaan pasar.

“Hingga akhir 2026, kami memperkirakan BI-Rate berpotensi mencapai 6,25 persen, terutama jika tekanan eksternal berlanjut,” kata dia.

Faiz menambahkan, kenaikan bunga perlu dibarengi intervensi di pasar valas, penguatan insentif lindung nilai, dan instrumen moneter berimbal hasil kompetitif. Kebijakan makroprudensial juga perlu terus mendukung pembiayaan sektor produktif agar stabilisasi rupiah tidak terlalu menekan pertumbuhan.

Peluang Naik 60 Persen, Tahan 40 Persen

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede juga memperkirakan kenaikan 25 basis poin, namun tetap membuka peluang BI menahan bunga di 5,75 persen.

“Secara probabilistik, kami melihat peluang kenaikan suku bunga sekitar 60 persen, sedangkan peluang mempertahankan suku bunga sekitar 40 persen. Penilaian ini sejalan dengan meningkatnya ekspektasi pengetatan moneter di pasar, meskipun konsensus ekonom masih terbelah,” kata Josua.

Menurut PermataBank, ekspektasi pasar bergeser terutama karena tekanan pada rupiah setelah MSCI mengumumkan kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi pasar tersendiri. Dampaknya tampak pada koreksi tajam IHSG dan naiknya imbal hasil SBN tenor 10 tahun. Pada 20 Oktober, imbal hasil SBN 10 tahun berada di sekitar 7,44 persen, naik sekitar 137 basis poin dibandingkan akhir 2025. Rupiah bergerak di sekitar Rp17.987 per dolar AS, meski mulai menunjukkan tanda stabil.

Josua menilai kenaikan 25 basis poin lebih proporsional ketimbang kenaikan agresif 50 basis poin, karena dapat memperkuat kredibilitas kebijakan dan daya tarik aset rupiah tanpa menekan pertumbuhan secara berlebihan.

Ia mengingatkan, BI sudah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin pada Mei hingga Juni 2026. Efek pengetatan sebelumnya itu, menurutnya, perlu diperhitungkan sebelum bank sentral mengambil langkah tambahan.

Keputusan Bergantung pada Keseimbangan Risiko

Perbedaan proyeksi para ekonom menunjukkan bahwa keputusan BI akan bertumpu pada penilaian atas keseimbangan risiko antara stabilitas rupiah, arus modal, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update