Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Global
Global

Demonstrasi Pelajar Meluas di Italia, Protes Anggaran Pendidikan dan Biaya Hidup

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 30 Oct 2026 👁️ 9x dibaca
Para pedemo menyalakan suar saat melakukan unjuk rasa memprotes kenaikan biaya hidup di Piazza Duomo, Milan, Italia, 17 Oktober 2026.
Para pedemo menyalakan suar saat melakukan unjuk rasa memprotes kenaikan biaya hidup di Piazza Duomo, Milan, Italia, 17 Oktober 2026. Foto: AFP/PIERO CRUCIATTI

PahamEkonomi.com - Gelombang demonstrasi pelajar dan mahasiswa berlangsung di sejumlah kota di Italia pada Jumat (30/10/2026). Aksi tersebut digelar untuk memprotes pemangkasan anggaran pendidikan, kenaikan biaya hidup, serta kebijakan pemerintah yang meningkatkan anggaran pertahanan.

Para demonstran juga mendesak pemerintah mengambil langkah untuk mengatasi persoalan perumahan yang semakin membebani generasi muda. Dilansir AFP, demonstrasi tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian protes selama beberapa pekan terakhir, ketika pelajar mendirikan tenda dan menduduki sejumlah sekolah untuk menyampaikan tuntutan.

Gerakan serupa sebelumnya juga berlangsung di negara tetangga, Prancis.

Pelajar kritik kebijakan pemerintahan Meloni

Laura Teresi (18), siswi SMA Cavour di Roma sekaligus juru bicara gerakan pelajar OSA, memperkirakan demonstrasi pada Jumat akan diikuti banyak peserta.

"Pada hari Jumat, kami memperkirakan akan ada mobilisasi besar-besaran dari para pelajar, yang akan memblokir dan mengosongkan sekolah," ujar Teresi kepada AFP.

Ia mengatakan, aksi tersebut juga ditujukan untuk memprotes kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, terutama terkait peningkatan anggaran persenjataan dan kenaikan biaya hidup.

"Kami akan turun ke jalan untuk mengecam kebijakan persenjataan kembali yang diambil oleh pemerintahan (Perdana Menteri Giorgia) Meloni, serta kenaikan biaya hidup yang semakin membebani keluarga, pekerja, dan para pelajar," katanya.

Selain itu, para pelajar mempersoalkan pemangkasan anggaran pendidikan yang dinilai terus berlangsung.

Demonstrasi pelajar tersebut berlangsung bersamaan dengan aksi pengemudi truk dan petani yang memprotes lonjakan harga bahan bakar serta meningkatnya biaya hidup. Serikat pekerja sayap kiri radikal, USB, juga menyerukan mogok kerja nasional pada Jumat.

Aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi kemungkinan bentrokan. Kekhawatiran itu muncul setelah kerusuhan pada 17–18 Oktober 2026 di Milan, ketika sekelompok anak muda membakar kendaraan dan menjarah pertokoan.

Generasi muda merasa kurang didengar

Profesor sejarah kontemporer dan antropologi politik Universitas Luiss Roma, Rosario Forlenza, menilai demonstrasi tersebut mencerminkan keresahan sosial yang lebih luas.

Menurut Forlenza, krisis ekonomi, sosial, dan budaya di Italia maupun Eropa telah memengaruhi berbagai kelompok masyarakat.

Ia mengatakan, generasi muda merasa kurang terwakili secara politik karena perhatian para pemimpin dinilai lebih banyak tertuju pada persoalan lain. Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda menghadapi ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial, dan kekhawatiran mengenai masa depan.

Sementara itu, psikolog dan psikoterapis Matteo Lancini menilai sistem pendidikan turut berkontribusi terhadap keresahan generasi muda.

"Kita membutuhkan sekolah yang berubah secara radikal, sekolah yang tidak dirancang dengan berorientasi pada sistem pensiun orang dewasa," ujarnya dalam pertemuan dengan pers asing di Roma.

Lancini juga mengkritik kecenderungan masyarakat menyalahkan media sosial atas persoalan yang dihadapi generasi muda tanpa diikuti pembenahan sistem pendidikan.

Pemerintah Italia siapkan bantuan bagi pekerja dan anak muda

Di tengah gelombang protes, pemerintahan Meloni telah memperketat aturan pertemuan publik dan melonggarkan ketentuan penahanan anak di bawah umur.

Pemerintah juga menyetujui bantuan senilai 175,2 juta euro atau sekitar Rp3,5 triliun bagi pengemudi truk, petani, dan nelayan yang terdampak kenaikan harga bahan bakar akibat perang di Timur Tengah.

Sementara itu, rancangan anggaran 2027 memuat sejumlah kebijakan untuk membantu generasi muda dan keluarga. Salah satu usulannya adalah pemberian bonus tahunan sebesar 2.500 euro atau sekitar Rp50,5 juta bagi pekerja berusia di bawah 30 tahun.

Dalam konferensi pers pada Rabu (28/10/2026), Meloni berharap kebijakan tersebut dapat merespons keresahan generasi muda yang merasa diabaikan negara.

Namun, ia menegaskan bantuan tersebut tidak ditujukan bagi kelompok yang melakukan perusakan saat demonstrasi.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update