Dari Sapu Ijuk hingga Rantai Pasok, Begini KUR BNI Menggerakkan Ekonomi Jember
PAHAMEKONOMI.COM – Kredit Usaha Rakyat (KUR) bukan sekadar fasilitas pinjaman bagi pelaku usaha. Ketika dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, pembiayaan ini dapat membantu menggerakkan aktivitas ekonomi yang melibatkan tenaga kerja, pemasok bahan baku, hingga pedagang.
Gambaran tersebut terlihat dari usaha sapu ijuk Ken Dedes milik Karyati di Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, yang mendapatkan pembiayaan KUR sebesar Rp200 juta dari BNI Kantor Cabang Jember.
Dana pembiayaan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan lokasi usaha sekaligus memperkuat kapasitas bisnis yang dijalankan Karyati bersama suaminya.
Ken Dedes memproduksi sapu ijuk dan perlengkapan rumah tangga untuk berbagai pelanggan, mulai dari instansi, perkantoran, pedagang keliling, hingga konsumen rumah tangga.
Menariknya, kegiatan produksi Ken Dedes tidak berdiri sendiri. Bahan baku dan komponen produksi diperoleh dari sejumlah pemasok di Bondowoso, Lumajang, dan Puger, Jember.
Usaha ini juga melibatkan lima tenaga kerja yang menjalankan berbagai tahapan produksi, mulai dari pengolahan ijuk, pemasangan gagang, pengepresan, hingga pengemasan.
Dalam konteks ekonomi, aktivitas tersebut menggambarkan efek berganda atau multiplier effect. Ketika kapasitas usaha meningkat, peluang manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati pemilik usaha, tetapi juga dapat menjangkau pekerja, pemasok, dan jaringan penjualan.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, dukungan pembiayaan kepada usaha produktif menjadi salah satu langkah BNI dalam memperkuat perekonomian masyarakat.
"Usaha produktif di daerah memiliki rantai ekonomi yang cukup luas. Ketika kapasitas usahanya meningkat, manfaatnya juga dapat dirasakan oleh tenaga kerja, pemasok, hingga jaringan penjualan yang terlibat. Karena itu, kami berharap pembiayaan KUR dapat memberikan multiplier effect bagi ekonomi masyarakat," kata Okki.
BNI menegaskan bahwa penyaluran KUR tetap dilakukan dengan memperhatikan kelayakan usaha, ketentuan pembiayaan, dan prinsip kehati-hatian.
Dengan akses modal yang tepat, UMKM yang telah memiliki pasar diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan memperkuat kontribusinya terhadap ekonomi lokal.

