Selasa, 03 Nov 2026 NasionalKeuanganBisnisGlobalIndustri
Beranda › Industri
Industri

Butuh 3.000 Sapi Laktasi, Batang Incar Investor Peternakan Sapi Perah untuk Pasok Industri

✍️ Yoga Firmansyah 🕒 15 Oct 2026 👁️ 36x dibaca
Gambar ilustrasi sapi perah di Kabupaten Batang.
Gambar ilustrasi sapi perah di Kabupaten Batang. Foto: Istimewa

PahamEkonomi.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang membuka peluang investasi peternakan sapi perah untuk menutup kekurangan pasokan susu segar bagi industri. Kebutuhan susu untuk Nestle mencapai 32 ton per hari, sedangkan produksi lokal yang terintegrasi baru sekitar 3 ton per hari.

Data itu disampaikan Kepala Bidang Peternakan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Batang, M Arief Edyanto, di kantornya, Rabu (14/10/2026).

“Terkait dengan kuota susu Nestle tadi kan 32 ton, kita baru mencukupi 3 ton sekitar sehari,” kata Arief, di Kantornya, Rabu (14/10/2026).

Butuh 3.000 Sapi Laktasi untuk Tutup Kekurangan 30 Ton

Menurut Arief, selisih pasokan sekitar 30 ton per hari hanya bisa ditutup jika populasi sapi perah di Batang ditambah secara bertahap. Perhitungan teknis Dispaperta menyebutkan dibutuhkan sekitar 3.000 ekor sapi laktasi (produktif), dengan asumsi produksi rata-rata 10 liter susu per ekor per hari.

“Berdasarkan kalkulasi teknis Dispaperta, diperlukan sekitar 3.000 ekor sapi laktasi (produktif) dengan asumsi rata-rata produksi 10 liter susu per ekor per hari,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id

Saat ini jumlah sapi laktasi di Batang baru sekitar 300 ekor. Karena populasi lazimnya dihitung dua kali lipat dari sapi yang berproduksi, target populasi mencapai sekitar 6.000 ekor, separuhnya laktasi.

Kalau sekarang 300, (butuh) 3.000 yang laktasi. Dalam populasi biasanya dikalikan dua, jadi populasi yang kita harapkan itu sekitar 6.000 ekor, separuhnya di antaranya laktasi. Nanti akan terproduksi 3.000 kali 10 liter per hari, itu 30 ton.

Arief menilai kondisi ini membuka ruang pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, baik bagi masyarakat lokal maupun investor.

“Kondisi ini membuka ruang pertumbuhan ekonomi yang sangat prospektif bagi masyarakat local maupun investor yang ingin membudidayakan sapi perah secara komersial,” jelasnya.

Peternakan Mandiri Sudah Berjalan

Selain peluang pada rantai pasok industri besar, usaha peternakan mandiri di sejumlah wilayah Batang telah berjalan mapan. Di Kecamatan Batang dan Warungasem, terdapat sekitar 40 ekor sapi laktasi dengan produksi hingga 400 liter per hari yang dijual langsung ke konsumen tanpa melalui Nestle.

Arief menambahkan, pengembangan populasi ternak memerlukan proses pemuliaan dan kesiapan infrastruktur, sehingga Pemkab Batang menyusun peta jalan jangka panjang yang terukur.

“Di Batang sama di Warungasem itu ada sapi perah yang menjual secara mandiri, tidak masuk ke Nestle. Itu sekitar 40-an ekor laktasi dan sehari bisa menghasilkan 400 liter. Mengingat pengembangan populasi ternak memerlukan proses pemuliaan dan kesiapan infrastruktur, Pemkab Batang menetapkan peta jalan jangka panjang secara bijaksana dan terukur tanpa bersikap instan,” terangnya.

Target 10 Tahun untuk 5.000-6.000 Ekor

Pemkab menargetkan populasi sapi perah mencapai 5.000 hingga 6.000 ekor dalam kurun 10 tahun. Langkah ini disebut sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha lokal untuk bertransformasi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

YF
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update