Tren Kesehatan Mojokerto: Pengobatan Mandiri Masih Jadi Pilihan Utama Warga
Pahamekonomi.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto mengungkapkan bahwa tindakan pengobatan mandiri masih menjadi langkah penanganan pertama yang paling sering diambil oleh sebagian besar penduduk setempat tatkala mengalami gangguan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan data lembaga tersebut pada rentang tahun 2023 hingga 2025, tren pengobatan sendiri sempat mengalami lonjakan sebesar 7,75 persen pada tahun 2024. Meskipun persentasenya kemudian melandai menjadi 5,37 persen pada tahun berikutnya, pengobatan mandiri tetap menjadi lini pertahanan awal masyarakat sebelum memutuskan untuk mengakses layanan fasilitas kesehatan resmi.
Selain pilihan pengobatan mandiri, masyarakat di wilayah tersebut biasanya beralih ke fasilitas kesehatan atau tenaga medis profesional untuk mendapatkan pelayanan rawat jalan apabila kondisi tubuh belum membaik. Jika keluhan kesehatan kian berlanjut dan tidak cukup diatasi melalui penanganan mandiri maupun rawat jalan, opsi berikutnya adalah menjalani rawat inap.
Fasilitas rawat inap sendiri tersedia secara merata baik di kawasan perkotaan maupun pedesaan, mencakup rumah sakit, puskesmas, hingga klinik kesehatan. Rumah sakit kerap menjadi rujukan utama ketika pasien membutuhkan penanganan dengan tingkat risiko lebih tinggi berkat kelengkapan fasilitas serta dukungan tenaga medis ahli.
Sementara itu, puskesmas yang berdiri di setiap kecamatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2019 turut serta melayani rawat inap di titik-titik tertentu, didampingi oleh klinik kesehatan yang juga menjadi alternatif bagi warga.
Berdasarkan catatan BPS Kabupaten Mojokerto, durasi rata-rata pasien yang menjalani rawat inap selama periode 2023–2025 berkisar hingga lima hari. Pola pemanfaatan layanan kesehatan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat menjadikan pengobatan mandiri sebagai langkah permulaan sebelum akhirnya mendatangi fasilitas medis lanjutan.
Dinamika kesehatan warga ini turut diwarnai oleh kenaikan angka kesakitan pada tahun 2025. Berdasarkan temuan Susenas Maret 2025, angka kesakitan menembus 14,08 persen, yang mengindikasikan bahwa sekitar 141 dari setiap 1.000 penduduk mengalami keluhan kesehatan berat hingga mengganggu aktivitas harian mereka.
Angka tersebut sekaligus membalikkan tren penurunan yang sempat terjadi secara konsisten dalam tiga tahun berturut-turut sebelumnya, di mana angka kesakitan tercatat sebesar 14,16 persen pada 2022, turun ke angka 11,36 persen pada 2023, dan kembali menyusut menjadi 10,11 persen pada 2024, sebelum akhirnya kembali mengalami kenaikan sebesar 3,97 persen pada 2025.
