Pasar Bisnis Laundry Jakarta Makin Jenuh, Pakar INDEF Ingatkan Risiko Perang Harga
Pahamekonomi.com - Fenomena menjamurnya usaha penatu (laundry) di wilayah perkotaan seperti Jakarta memicu risiko kejenuhan pasar lokal serta penurunan tingkat keuntungan bersih bagi pelaku UMKM. Tingginya kepadatan sesama penyedia jasa dalam radius yang sangat berdekatan kini berpotensi memicu perang harga hingga menggerus margin usaha.
Guna mencegah dampak buruk dari persaingan yang tidak sehat, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mendorong Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) untuk segera memetakan sebaran lokasi dan potensi pasar laundry secara terukur.
"Jangan hanya mendorong pengusaha membuka laundry, tetapi juga perlu melihat dan mengatur sebarannya. Kalau di satu wilayah sudah terlalu banyak, pengusaha baru dapat diarahkan ke wilayah lain yang masih memiliki potensi. Dengan begitu, semua bisa tumbuh dan bertahan," ujar Maman dalam keterangan resminya pada (14/9/2026).
Menanggapi kondisi tersebut, Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Fadhila Maulida, memaparkan bahwa maraknya jasa laundry didorong oleh tingginya nilai ekonomi waktu bagi masyarakat urban yang sibuk, pesatnya pertumbuhan hunian vertikal, serta rendahnya hambatan masuk (barrier to entry) bagi modal usaha.
Namun, Fadhila mengingatkan bahwa pola persaingan yang mengarah pada pasar monopolistik ini dapat berujung pada penurunan harga hingga mendekati biaya rata-rata (break-even point).
"Dalam cara produksi rumah tangga, rumah tangga akan membeli jasa dari pasar ketika nilai waktunya lebih mahal daripada harga jasa tersebut," ujar Fadhila saat dihubungi, Sabtu (26/9/2026).
"Urbanisasi dan pertumbuhan hunian vertikal memperkuat pola tersebut," kata Fadhila.
"Kalau ada pemain baru masuk ke area yang sama, permintaannya akan terbagi lebih banyak," ujar Fadhila.
"Artinya, pengusaha hanya menutup biaya, termasuk upah untuk dirinya sendiri tanpa keuntungan lebih," kata dia.
"Usaha yang berhasil bertahan biasanya yang biayanya paling efisien atau mampu membedakan dirinya sendiri," ujar Fadhila.
"Ketika banyak pesaing, setidaknya dia tidak merugi atau masih untung walaupun tipis," ujar Fadhila.
Tekanan persaingan yang makin ketat diakui langsung oleh para pemilik usaha di lapangan, seperti Seno (47) di kawasan Menteng dan Nanang (37) di Cikini, Jakarta Pusat. Bertambahnya jumlah tempat laundry baru dalam radius 500 meter membuat omzet kotor bulanan mereka yang sebelumnya dapat menyentuh angka Rp30 juta, kini terkikis ke kisaran Rp20 juta hingga Rp27 juta.
"Kalau dulu di sekitar sini mungkin orang harus jalan atau naik motor beberapa ratus meter untuk mencari laundry, sekarang hampir setiap beberapa ratus meter ada," kata Seno saat ditemui di kiosnya beberapa waktu lalu.
"Walaupun angka omzetnya kelihatan masih besar, uang yang tersisa setelah membayar semua kebutuhan usaha enggak sebesar dulu," ujar dia.
"Kalau semua ikut turun, akhirnya yang terjadi perang harga," kata Seno.
"Jadi pelanggan sekarang punya banyak pilihan. Tinggal lihat mana yang paling dekat, mana yang harganya cocok," kata Nanang ketika ditemui di kiosnya belum lama ini.
"Kalau ada kompetitor pasang harga promo, saya biasanya enggak langsung turunkan harga," ujar dia.
Untuk menghadapi ancaman persaingan dan menjaga keberlangsungan usaha, para ahli maupun pelaku usaha menyarankan calon pengusaha baru melakukan analisis titik impas (break-even point) secara mendalam. Di samping itu, diferensiasi layanan—seperti penyediaan jasa antar-jemput, dry cleaning, cuci sepatu, hingga perawatan bahan khusus—menjadi kunci utama agar bisnis dapat bertahan tanpa harus terjebak dalam perang tarif.
